Freelance Graphic Designer

Menu

Filter

Catatan : Sartre

Tulisan ini dibuat sebagai catatan dari kelas ekstensi dengan judul Eksistensialisme dan Ateisme Sarte : Mencoret Tuhan, agar Manusia Bebas, oleh SP. Lili Tjahjadi pada tanggal 20 Maret 2017.

Penjelasan dibagi menjadi 3 bagian, yang pertama dari segi biografis, yang kedua filosofis, dan ketiga adalah kritik terbuka atas telaah filosofis Sartre.

Jean Paul Sartre tumbuh dengan didikan keras ibunya secara Katolik dan didikan keras kakeknya yang Protestan. Dari didikan tersebut, diceritakan bahwa Sartre mendapatkan gambaran agama sebagai sesuatu yang sangat dogmatik. Sosok Tuhan digambarkan sebagai figur yang kejam karena suka menghukum dan maha tahu dengan matanya yang dimana-mana. Sarte mengatakan di dalam salah satu ceritanya tentang karpet dan korek api bahwa sosok Tuhan merupakan ‘kekurangajaran yang keterlaluan’.

Sebagai catatan, keluarga Sarte memang keluarga yang berpendidikan tinggi, mengingat sepupu dari kakeknya, Dr Albert Schweitzer, adalah pemenang nobel perdamaian. Sarte pun nantinya merupakan kandidat penerima nobel—yang menolak menerima gelar tersebut karena ia menganggap panitia nobel di Stockholm adalah kaum borjuis.

Dengan background keluarga yang keras kemudian dikembangkan dengan pemikirannya, pada usia yang relatif muda Sartre menolak gambaran Tuhan.

__

Sartre menolak gambaran Tuhan berdasarkan pandangannya tentang kesadaran dan kebebasan total.

Dalam bukunya Being and Nothingness, secara mengakar Sartre mengklasifikasikan dua cara manusia mengada. Yang pertama adalah being IN itself (etre-en-soi) yang berarti manusia adalah object of consciousness. Hal ini menggambarkan bahwa manusia adalah sosok benda yang ada begitu saja dan tidak identik dengan kesadaran.

Yang kedua adalah being FOR itself (etre-pour-soi) yang berarti consciousness of man. Manusia memiliki ciri khas mengada bahwa ia memiliki kesadaran dan mampu membuat negasi akan hal-hal di sekeliling yang berpengaruh baginya. Menurut Sartre, manusia pada dasarnya memiliki kesadaran dan kebebasan yang pada hakikatnya menolak ke-tetap-an.

Sartre menyimpulkan bahwa seandainya Tuhan ada, maka Ia memiliki kedua sifat mengada tersebut. Namun Tuhan yang seperti ini tidak mungkin ada karena etre-en-soi dan etre-pour-soi di saat yang bersamaan akan saling bertentangan. Menjadi Tuhan yang abadi dan tetap, yang menegasikan keberadaannya yang tetap itu sendiri.

Sartre mencoba mempertentangkan kebebasan dengan Tuhan. Manusia memiliki apa yang disebut dengan kodrat. Sesuatu yang sudah ada dari sananya—misalnya kodrat melahirkan dan menyusui dimiliki perempuan, bukannya laki-laki. Segala ciptaan dijadikan menurut gambaran Tuhan, jadi sudah sejak awal, benda-benda khususnya manusia sudah memiliki jalan yang ditentukan oleh Tuhan; hanya kebebasan fana yang bisa dinikmati, terlihat mempunyai pilihan bebas tapi sebenarnya tidak bebas. Karena segalanya sudah direncanakan, seorang manusia tidak lagi dapat bergerak mencapai sesuatu yang lebih tinggi dari yang telah ditentukan. Dapat dikatakan dengan argumen ini bahwa esensi mendahului eksistensi. Eksistensi hanya menjadi makna perpanjangan dan bukan sesuatu yang inti.

Sartre berpendapat sebaliknya, bahwa eksistensi mendahului esensi. Manusia dapat membentuk dan mendefinisikan dirinya melalui cara ia bereksistensi. Kebebasan berada dalam pilihan yang diambil manusia saat ia merealisasikan dirinya untuk menemukan dirinya.

Seperti Heidegger, Sartre pun percaya bahwa hidup manusia adalah sebuah keterlemparan. Langkah selanjutnya ditentukan sendiri oleh manusia, bagaimana ia mau mengisi hidupnya. Sifat kebebasan ini menurut Sartre adalah kebebasan yang radikal dan total.

Saat inilah pandangan Sartre dan konsep tentang Tuhan bertabrakan. Manusia tidak bisa merealisasikan diri secara total jika Tuhan ada. Karena jika Tuhan ada, maka manusia merupakan makhluk yang sudah ditentukan kodratnya dan akhirnya. Jika Tuhan ada, paham kebebasan untuk bereksistensi dicabut dari dari manusia.

Kepercayaan terhadap Tuhan menurut Sartre, di sebagian besar kasus merupakan suatu bentuk dari pelarian masalah-masalah konkret di dunia. Hal yang merupakan kesulitan dan ancaman dianggap sebagai cobaan yang harus dilalui oleh orang beriman.

Menurut Sartre, hidup dengan mencoret konsep Tuhan tidaklah menjadi lebih mudah. Manusia tidak lagi punya pegangan dan harus sepenuhnya bertanggung jawab terhadap tindakannya; sendirian, kesepian, dan tidak diterima. Pandangan orang lain yang menjustifikasi juga semakin memperberat.

Terkait dengan pernyataan ‘Hidup tanpa Tuhan menjadi tidak bermakna dan tidak bertujuan’, Sartre berkata bahwa pada dasarnya kehidupan adalah sesuatu yang absurd dan tanpa makna sedikitpun. Manusia adalah gairah tanpa guna. Dengan kebebasan manusia dapat mengembangkan diri dan kemudian menemukan esensinya.

Pada masa mudanya Sartre terkenal dengan kata-katanya bahwa ‘Orang lain adalah neraka!’ Tetapi di masa tuanya ia berubah menjadi lebih lunak dan mengatakan bahwa realisasi diri tidak dapat dilakukan sendirian, tetapi dilakukan bersama orang lain. ‘Karena saya terikat dengan orang lain, maka kebebasan saya juga selalu memperhatikan kebebasan orang lain’.

Namun esensi manusia tidak dapat tercapai secara penuh karena sifat etre-pour-soi yang menolak ke-tetap-an. Esensi sesunguhnya baru bisa didapatkan saat manusia sudah mati. Namun saat mati, pengetahuan tentang esensi diri menjadi hal yang tidak mungkin. Pandangan Sartre merupakan sebuah pengharapan tanpa pemenuhan.

Masa tua Sartre dipenuhi keterlibatan di dalam dunia politik sebagai perwujudan kebebasannya—dan kebebasan orang lain yang mendapatkan ketidakadilan. Ia mengecam keras penindasan dan ikut dalam pemberontakan.

Sartre meninggal karena serangan jantung di usianya yang ke-75. Partner hidupnya, Simone de Beauvoir menghadiri pemakamannya bersama ribuan orang dari berbagai kalangan. Kira-kira 6 tahun kemudian Beauvoir meninggal dan jasad mereka diletakkan di liang kubur yang sama.

__

Terdapat beberapa pelajaran yang bisa diambil dari paparan di atas. Cara mengkomunikasikan konsep tentang Tuhan terhadap manusia memiliki kadar yang berbeda sesuai dengan perkembangan manusia tersebut. Alangkah baiknya jika anak-anak diperkenalkan dengan konsep Tuhan yang pengampun, penyayang dan penuh cinta kasih; bukan sebagai sosok yang menghukum dan mahatahu. Ajaran yang terlalu keras akan membekas dan menimbulkan sebuah trauma yang akan berpengaruh dengan realasi terhadap orang lain saat anak tersebut sudah dewasa.

Pandangan Sartre bahwa manusia yang bisa bebas secara total hanya jika Tuhan tidak ada, bisa terjadi jika manusia tersebut memiliki sebuah kepercayaan buta terhadap konsep Tuhan; bukan Tuhan sendiri. Kebebasan yang dipandang dari segi orang-orang beriman yang menghayati Tuhan lebih kepada kebebasan untuk memilih tidak melakukan hal-hal yang buruk menurut agama. Dalam beberapa kasus, para martir pun memilih kehilangan nyawanya daripada dipaksa mengkhianati imannya.

Apakah sebenarnya kodrat layak dipertentangkan dengan kebebasan? Karena kebebasan tidak terjadi pada hal yang kodrati, tetapi pada tingkat alasan dan motif. Dengan memahami kodrat sebagai suatu keterlemparan, manusia berada dan berusaha memahami dunianya untuk menemukan esensinya.