Freelance Graphic Designer

Menu

Filter

Catatan : Reformasi Protestan

Tulisan ini dirangkum berdasarkan excourse Reformasi Protestan dan Sekularisasi oleh Eddy Kristiyanto, pada 29 Februari 2016.

Reformasi Protestan merupakan gerakan pembaharuan di bidang agama, yang memiliki keterkaitan dengan proses sekularisasi. Walaupun berbau agama, tetapi reformasi tersebut tidak dapat terlepas dari aspek politik, ekonomi, sosial, dan budaya.

Yang menjadi pembahasan adalah masyarakat Eropa pada Abad Pertengahan (Abad VIII – XV). Pada jaman tersebut hampir segala aspek kehidupan masyarakat tidak terlepas dari unsur, pengaruh, maupun simbol agama (Katolik); mulai dari pemerintahan, seni, keluarga, dst.

Masyarakat hafal dan melakukan praktik/ritual agama sesuai dengan aturannya. Terdapat beberapa hal yang menarik, bahwa pada saat itu ada perilaku materialistis dan kemerosotan moral di dalam lembaga agama. Para petinggi agama mengatasnamakan agama untuk memperopleh kekayaan. Keluarga kaya dapat memiliki seorang imam keluarga untuk mendoakan dan menyelamatkan mereka (menjauhkan dari apa yang disebut neraka) dan pengakuan dosa bisa diperjual belikan.

Kekuasaan sipil saat itu blunder dengan lembaga agama. Perkawinan antara kedua lembaga tersebut menghasilkan suatu kekuasaan absolut yang tidak bisa dilawan. Keputusan kekuasaan sipil bisa dibilang membutuhkan restu dari lembaga agama (termasuk perang). Tafsiran agama secara penuh berada di tangan lembaga agama, menyebabakan lembaga tersebut seolah memegang kebenaran sejati, dapat mendikte pihak mana yang disebut kawan dan mana yang merupakan lawan.

Masyarakat Eropa saat itu bisa digambarkan dengan bentuk piramida, mulai dari bawah dengan jumlah paling besar adalah petani, berikutnya tentara, bangsawan, raja atau uskup, dan yang berada di piramida paling atas adalah Paus.

Analogi 2 pedang menceritakan pedang yang diberikan Petrus kepada Paus. Oleh Paus, diberikan masing-masing kepada (#1) Surga dan (#2) Dunia/sipil. Tetapi posisi sipil selalu tidak setara dengan surga, jadi anggapannya #1 masih jauh lebih berkuasa. Karena itu kekuasaan sipil seolah menjadi perpanjangan tangan lembaga agama.

Martin Luther merasa muak dengan situasi yang ada dan berusaha untuk membebaskan sipil dari lembaga agama/penguasa. Menurut Luther, kebenaran tidak mutlak berada di tangan lembaga agama. Kenyataan yang sebenarnya berada di surga, bukan di dunia. Perbuatan baik dan ritual-ritual keagamaan bukan menjadi jaminan atau penentu pintu surga, melainkan dari pengampunan Tuhan.

Salah satu aspek penting dalam beragama pada saat itu adalah asketisme atau matiraga khususnya dalam biara atau pertapaan. Para reformator berusaha menghilangkan cara tersebut dan mengusung pemikiran bahwa kegiatan atau pekerjaan yang dilakukan secara halal dengan tekun akan memuliakan Tuhan. Reformasi Protestan ini lebih menekankan ke hal yang konkret daripada yang abstrak, lebih ke cara hidup sehari-hari. Jika dilihat sekarang, negara yang mengadopsi paham kapitalisme industri (pengaruh dari Reformasi Protestan) seperti Jerman, Swiss, Swedia, bisa dibilang lebih sejahtera dibandingkan dengan negara seperti Spanyol atau Meksiko.

Reformasi Protestan banyak didukung oleh masyarakat sipil yang merasa tertekan oleh ‘penjajahan’ Gereja. Martin Luther dianggap sebagai ‘Musa’ bagi bangsa Jerman yang menginspirasi pembebasan. Gerakan ini muncul dari kaum petani, yang menuntut pembebasan hak atas tanah yang selama ini dimiliki oleh para tuan tanah. Tetapi kaum ini berhasil dipatahkan oleh para aristorkrat yang mempunyai sumber dana besar.

Logika protestanisme menjunjung tinggi prinsip kebebasan. Kekuasaan tertinggi oleh lembaga agama yang dapat memonopoli pemerintahan dipersoalkan. Tetap dalam kenyataannya, protestanisme ini tidak terlalu berhasil menghasilkan sebuah Gereja yang bersih dan kuat, melainkan gereja-gereja yang saling bersaing.

Reformasi Protestan juga mendorong terjadinya melek huruf. Masyarakat tidak lagi mengandalkan utusan Gereja untuk membaca dan menafsirkan kitab suci. Masyarkat bisa mempertanyakan, bukan lagi 100% menelan mentah-mentah. Sains juga punya andil dalam hal ini, dengan ditemukannya mesin cetak oleh Gutenberg, memungkinkan pencetakan kitab suci secara massal, bukan disalin kata per kata seperti sebelumnya.

Semakin banyak jalan dan kesempatan untuk mencerna bahwa ada pandangan lain, bukan hanya satu. Struktur kekuasaan, dalam hal ini monopoli oleh agama, dibongkar.

Eropa bukan lagi hanya terdiri oleh masyarakat monoreligi. Setelah Martin Luther, masyarakat mengenal multireligi (Katolik, Protestan, dan Calvinis), dan dapat memilih agama sesuai dengan keyakinan masing-masing.

Agama sebagai komunitas akan selalu bergerak dan mengandung unsur pembaharuan, memunculkan value dan penafsiran baru. Hal tersebut adalah hal yang manusiawi dan natural. Sekularisasi, dalam hal ini Reformasi Protestan, bisa dibilang justru dapat memurnikan agama, menghindari monopoli dan absolutisme, karena berusaha memisahkan unsur agama dari hal yang lain.

Sekularisasi yang merupakan sebuah proses memungkinkan manusia tidak berdiam di suatu titik, tetapi bergerak untuk terus mencari, berkembang, dan bertanggung jawab pada diri maupun sekitarnya.