Freelance Graphic Designer

Menu

Filter

Catatan : Pra-sekular

Tulisan ini dirangkum berdasarkan excourse Masyarakat Pra-sekular oleh Alex Lanur, OFM, pada 21 Februari 2016.

Terdapat gap yang besar antara pandangan tentang konsep ketuhanan pada tahun 1500-an dan 2000-an. Pada tahun 1500-an bisa dibilang tidak mungkin untuk hidup tanpa mempunyai konsep ketuhanan secara kolektif. Tetapi tidak begitu pada tahun 2000-an.

Masyarakat pada tahun 1500-an hidup dalam enchanted world, di mana terdapat kepercayaan adanya roh-roh di luar manusia. Mulai dari roh yang dianggap jahat dan berkekuatan besar, sampai dengan roh yang dipercaya menempati hutan dan benda-benda. Objek tersebut dianggap memiliki kekuatan yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia, mempengaruhi kondisi fisik dan emosional, serta dapat menjadi sebab dari suatu hal. Dipercaya juga perlawanan dari hal tersebut, bahwa ada sesuatu yang memiliki kekuatan besar dan masif atau wujud yang tertinggi.

Konsep tentang adanya Tuhan juga berkembang karena cara hidup masyarakat yang kolektif. Masyarakat saat itu sangat rentan dan rapuh. Entitas tidak terlalu menjadi fokus, tekanannya ada pada kebersamaan. Kesalahan 1 orang merupakan kesalahan seluruh anggota komunitas. Wabah dianggap sebagai akibat dari kesalahan yang diperbuat oleh komunitas.

Untuk menghindari hal-hal buruk yang akan terjadi, masyarkat menjadi berpegang teguh pada apa yang mereka sepakati bersama. Kemungkinan bahwa seseorang tidak mengikuti hal yang disepakati tersebut dan melenceng ke jalan lain menjadi sangat sedikit.

Salah satu produk kesepakatan bersama ini adalah munculnya cerita atau mitos tentang kejadian alam seperti petir, hujan, sampai dengan asal mula dunia.

Tegangan-tegangan dari cara hidup koletif tersebut di dalam hidup sehari-hari tentunya tidak terhindarkan; di mana masyarakat selalu dituntut untuk melakukan sesuatu yang baik oleh komunitasnya. Masyarakat membutuhkan keseimbangan dalam hidupnya dan akan selalu berusaha mewujudkannya. Keseimbangan misalnya untuk saat menyendiri dan saat bersosial. Ataupun keseimbangan untuk mencari hiburan setelah lama bekerja. Keseimbangan ini dibutuhkan untuk menjaga agar kehidupan berjalan dengan stabil. Dalam bentuk yang umum hal ini diistilahkan dengan struktur dan anti struktur. Anti struktur dibutuhkan untuk menjaga keharmonisan.

Pengaruh lain adalah pemikiran tentang waktu. Ada pembedaan dari waktu abadi atau luhur dengan waktu-waktu biasa yang juga disebut waktu sekular. Pemikiran ini diusung oleh Plato, yang kurang lebih mengatakan bahwa yang abadi ada di dunia tersendiri karena yang ada di dunia ini selalu berubah-ubah dan tidak sempurna. Pemikiran lain juga muncul dari Agustinus yang berpendapat bahwa waktu adalah linier, kumpulan dari masa yang sudah lalu, masa saat ini sekaligus proyeksi dari masa yang akan datang. Walaupun saling berkaitan, manusia tidak bisa berada di waktu tersebut secara bersamaan. Manusia hanya bisa mencoba menghadirkan hal yang sudah lampau di waktu yang sekarang, misalnya pada upacara-upacara keagamaan. Tetapi ada kekuatan yang lebih besar (Tuhan) yang dapat melampaui waktu-waktu tersebut.

Pemikiran tentang ketuhanan juga didukung oleh pergeseran pemahaman tentang alam raya. Manusia mulai menemukan bahwa ada keteraturan yang berjalan di alam. Gravitasi yang mengikat bumi. Planet yang bergerak pada orbitnya. Alam raya berjalan dengan prosesnya masing-masing, begitupun manusia. Menurut Aristoteles, puncak dari kosmos adalah Tuhan, penggerak yang tidak digerakkan dan sebab yang tidak disebabkan; hirarki teratas dari alam raya ini.

Di atas adalah gambaran singkat dari masyarakat pra sekular. Seiring waktu dan kemajuan pemikiran, pemahaman manusia berkembang dengan penekanan kepada manusia sebagai individu yang bebas. Agama menjadi hal yang bersifat pribadi dan bukan lagi berada di ranah kolektif.