Freelance Graphic Designer

Menu

Filter

Catatan : Heidegger

Tulisan ini dibuat sebagai ringkasan dan catatan dari kelas ekstensi dengan tema Heidegger dan Ontologi Otentisitas oleh F. Budi Hardiman pada tanggal 13 Maret 2017.

Sebagai pembukaan dibahas tentang latar belakang Heidegger, yang merupakan anak seorang koster di Gereja St. Martin. Nama depan Heidegger pun konon diambil dari nama gereja tersebut. Ia merupakan anak yang berbakat secara akademis dan sempat menjadi novis di Yesuit sebelum akhirnya mengundurkan diri. Heidegger sebagai seorang filsuf eksistensialis sangat dipengaruhi oleh gurunya, Husserl.

Terdapat 3 hal yang dianggap sebagai ‘noda’ dalam kehidupan Heidegger. Yang pertama adalah saat ia keluar dari Yesuit. Kedua adalah kisah cintanya dengan Hannah Arendt, mahasiswi bimbingannya, saat Heidegger sudah menikah. Walapun akhirnya mereka terpisahkan jarak, disimpulkan bahwa hubungan mereka masih berlanjut. Yang ketiga adalah keterlibatan Heidegger di partai nazi saat ia menjadi rektor di sebuah universitas di Jerman.

___

Salah satu billboard di jalanan Jakarta menunjukkan image seorang perempuan yang duduk dengan kulit mulus, mengiklankan tentang krim anti aging sebagai solusi anti keriput—yang sebenarnya juga hanya merupakan solusi sementara.

Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa manusia modern berusaha menjauhkan kematian dari realitas sehari-hari. Salah satunya dengan cara melawan penuaan.

Contoh lain adalah dengan mempercantik objek-objek kultur kematian, walaupun akhirnya objek tersebut hanya akan memberi arti pada orang yang masih hidup, bukan yang mati. Misalnya peti mati dan kuburan yang indah. Hal tersebut dimungkinkan untuk menjauhkan diri dari realitas dan rasa cemas akan kematian.

Pada hakikatnya, semua manusia akan mengalami kematian. Itu pasti. Hanya saat dan caranya saja yang belum kita ketahui. Ketakutan manusia akan kematian merupakan salah satu perasaan yang paling kuat di dalam hidup.

Heidegger mengatakan bahwa manusia mengalami keterlemparan ke dalam dunia ini tanpa tahu asalnya dan tanpa tahu tujuannya. Seperti bayi yang baru dilahirkan tanpa tahu (sadar) apa-apa—ia berinteraksi dan bertumbuh. Proses yang dibicarakan ini bukan ditinjau dari segi biologisnya. Manusia ada begitu aja. Istilah yang dipakai oleh Heidegger untuk menggambarkan manusia adalah Dasein yang berarti berada-di-sana. Kondisi keterlemparan ini sendiri adalah sebuah faktisitas.

Sebuah contoh peristiwa faktisitas adalah kelahiran dan kematian. Dari sekian banyak yang lahir kenapa ‘aku’ yang terlahir sebagai aku; atau kenapa saat ‘itu’ adalah saat kematiannya. Mengacu pada hal yang ada begitu saja tanpa tahu ‘kenapa’ atau ‘alasan’-nya.

Kata Dasein sendiri erat hubungannya dengan berada di sini (berarti bukan berada di tempat lain), yang menjadikannya unik dan satu-satunya. Dasein berkaitan dengan eksistensi (mengada) dan esensi (hakikat).

Selanjutnya pengertian keterlemparan memunculkan pengertian In-der-Welt-sein (berada-dalam-dunia) yang berarti manusia merupakan bagian yang berakar di dalam dunia.

Dalam pandangan Heidegger, eksistensi manusia terbatas pada ‘eksistensi di dunia’. Eksistensi pada reinkarnasi atau hidup abadi tidak termasuk. Diartikan secara eksistensial, kematian adalah batas horizon eksistensi di dunia. Dasein adalah Dasein selama ia berada di dalam dunia. Kehidupan selain itu—dunia akhirat, bukan termasuk Dasein.

Jadi, respon dari Dasein (berada-di-sana) dengan In-der-Welt-sein (keterlemparannya di dalam dunia) adalah Verstehen (memahami) eksistensinya di dunia. Verstehen disebutkan Heidegger sudah terjadi bahkan sebelum seorang bayi hadir secara fisik di dunia. Jika dalam tinjauan psikologi seperti archetype.

Rantai selanjutnya adalah Sein-zum-Tode (menuju kematian); yang merupakan arti eksistensi dari Dasein yang Verstehen In-der-Welt-sein.

Sejak manusia lahir di dunia, di saat itu juga kematian sudah hadir sebagai bayang-bayang—sejak itu juga manusia sudah berjalan menuju kematian. Tetapi kematian menurut Heidegger bukan berat diartikan sebagai berakhirnya eksistensi Dasein, tetapi lebih kepada menggambarkan makna eksistensi sebagai ‘suatu keberadaan’ Dasein menuju akhir (penekanannya ada pada sadarnya keberadaan); karena tanpa kematian, hidup tidak mempunyai arti. Kematian adalah syarat yang tidak terelakkan untuk memaknai hidup.

Manusia adalah pengada yang bertahan menuju ketiadaan.

Dari paparan di atas, Heidegger menekankan bahwa manusia bereksistensi atau mengada dengan menghayati dan memaknai kematiannya. Ia membagi cara mengada manusia atau Dasein dengan istilah otentik dan inotentik. Dasein mampu mengalami keduanya. Saat Dasein mengada secara otentik, ia sadar penuh dan memaknai kematiannya. Saat ia berada secara inotentik, ia tenggelam dalam berbagai pengalihan yang menjauhkannya dari kematian.

Melihat kematian secara objektif menjauhkan manusia dari otentisitasnya, karena peristiwa tersebut dipandang berada di luar dirinya; bukan menyangkut diri sendiri tetapi menyangkut orang lain.

Beberapa perilaku Dasein yang inotentik termasuk menjadi bagian dari kelompok kolektif (sampai kehilangan kesejatiannya), terlalu fokus hanya pada hal-hal yang paling baru dan kemudian terlalu cepat ‘lupa’.

Dengan adanya kematian atau garis batas horizon, manusia menjadi sadar bahwa hidup tidaklah abadi; yang memungkinkan manusia memaknai hidupnya. Dari kesadaran akan batas horizon atau kematian tersebut, Dasein memahami waktu (dulu, sekarang, nanti).

Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang (tujuan akhirnya) adalah menunggu saat datangnya kematian, yang mengisi waktunya dengan berbagai kegiatan. Dengan alat ukur waktu atau kronometer, manusia kadang atau sering, menjadi teralihkan akan tujuan akhirnya. Saat inilah yang disebut Heidegger dengan inotentisitas.

Dari pengertian secara eksistensial, kelahiran bukan merupakan hal yang tidak bisa berulang, dan kematian juga bukanlah hal yang belum ada. Dasein bereksistensi dengan selalu lahir, kemudian mati, kemudian lahir kembali, dan seterusnya sampai tiba saatnya kematian fisik/klinis.

Kelahiran kembali secara eksistensial adalah menjadi diri yang otentik dengan hidup dalam kesadaran tentang kematian; menyadari bahwa ia adalah sebuah kemungkinan menuju horizon. Bereksistensi secara inotentik adalah saat Dasein tenggelam dalam keseharian.

Argumen Heidegger sangat menekankan aspek mortalitas sebagai cara manusia memaknai hidupnya. Sebaliknya, Hannah Arendt, dengan awal pemikiran yang tidak jauh berbeda, lebih menekankan pada natalitas yang secara eksistensial berarti lahir kembali; lahir kembali dengan pemaknaan yang baru. Sebagai contoh adalah saat bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, saat suatu kelompok berani memperjuangkan nilainya di bawah tekanan ketidakadilan kelompok lain. Seperti itulah manusia yang menjadi otentik dengan kelahirannya kembali.